Kamis, 23 Oktober 2014

GENERASI YANG MENGGENGGAM BARA API


Bissmillaahirrahmaanirrahiim.

Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Umat Islam adalah umat terbaik. Wow! Siapa, sih yang tidak merasa tersanjung dibilang “Yang Terbaik”? Apalagi Allah langsung yang memberi gelar itu. Namun, mengapa sekarang ini kita tidak terlihat sebagai yang terbaik? Mengapa kita tidak dapat memperlihatkan kesempurnaan Islam kepada orang-orang yang belum memeluk agama Islam? Tidak seperti generasi-generasi di zaman keemasan Islam, yaitu ketika Daulah Islam masih berdiri. Bahkan pada zaman itu umat Islam unggul di segala bidang, mengalahkan Eropa yang memeluk Kristen ataupun Persia yang masih beragama Majusi. Hingga mereka masuk Islam berbondong-bondong karena takjub dengan kesempurnaan Islam. Bandingkan dengan sekarang. Mengapa hal ini dapat terjadi? Padahal sumber yang kita pelajari sekarang tetap sama, kan dengan yang mereka pelajari? Tetaplah al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, kok? Hmm.. Heran kan? Iya dong, heran dong, heran aja lah hehe...
Gladstone, salah seorang perdana menteri Inggris pernah berkata, “Selama al-Qur’an ini ada di tangan ummat Islam, tidak mungkin Eropa akan menguasai dunia Timur, percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.”
Setelah membaca kalimat di atas, bisa ditebak kira-kira penyebab kemunduran dan runtuhnya kejayaan umat Islam? Belum? Oke, saya kasih, nih bocorannya, berikut 3 penyebab utamanya.
(1)    Proses mendapatkan keimanan yang keliru. Kalau ditanya, “Kenapa kamu beragama Islam?” Kira-kira kamu bakalan jawab apa? Karena keluargamu muslim? Nah, banyak sekali muslim yang masih belum benar-benar berpikir mengapa dia memilih agama Islam, bukan agama lainnya. Sehingga, iman yang lemah ini lah yang akan sangat mudah terjerumus dan terdoktrin dengan pemahaman Baratsekulerisme, komunisme, dan sebagainya. Jika iman kita benar, maka tentunya kita tahu tujuan hidup kita apa di dunia ini, tidak lain tidak bukan adalah hanya untuk mencari keridhoan Allah Swt. Bukan untuk mencari kebahagiaan duniawi saja. Misalnya, mukmin sejati yang ingin menikah akan menempuh jalan khitbah-ta’aruf agar pernikahannya berkah—diridhoi Allah—bukan dengan jalan pacaran yang dimurkai Allah. Segala kenikmatan yang tidak mendekatkan diri pada Allah merupakan musibah.
(2)     Runtuhnya Khilafah Islamiyah yang melindungi umat, mengatur urusan umat, menerapkan hukum Islam secara sempurna, dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia. Wajarlah pasca keruntuhan Khilafah Utsmaniyah tahun 1924 M, umat terombang-ambing nasibnya, pelecehan dan kekerasan terhadap Islam dimana-mana, karya-karya besar muslim mati suri, tiap-tiap individu muslim tidak lagi merasa “satu” dengan muslim lainnya, terkotak-kotak atas nama nation state, dan masih banyak dampak lainnya yang bahkan tak kita sadari sekarang ini.
(3)     Paham sekulerisme yang mengotori pikiran umat. Umat menjadi tidak menyadari bahwa Islam bersifat komprehensif (syumuliah), yaitu tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, tapi mengatur segala aspek kehidupan (lihat QS Al Ma`idah: 3; QS An Nahl: 89). Tidak boleh kita memisahkan antara aspek ibadah ritual dengan aspek kehidupan ini, artinya Islam mengatur kehidupan kita seluruhnya, segala kehidupan kita harus diatur sesuai dengan hukum Allah, bukan kita yang membuat peraturan sendiri. Coba kita lihat, di sekeliling kita masih banyak muslim yang mendirikan sholat tetapi tidak menutup auratnya. Belum lagi aturan-aturan Islam lain yang tidak bisa kita jalankan karena tidak adanya negara atau kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukum Islam secara menyeluruh (bukan parsial).
Dari 3 penyebab tadi, bisa terlihat bahwa apa yang dikatakan Gladstone tadi benar adanya. Ngeri, kan? Kita tak lagi menggunakan hukum Allah sebagai landasan yang mengatur kehidupan.
Sekarang apa, nih yang harus kami lakukan untuk berkontribusi demi Islam?
Hmm, kasih tau ga, yaa...? Baiklah, check it out!
Kita tadi telah menganalisis etiologinya, nah berarti kita harus mengobatinya hingga tuntas, bukan hanya obat simptomatik saja. Sepakat?
Lalu, apa obatnya? Ya penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah). Mulailah dengan menuntut ilmu Islam, menerapkan dalam kehidupan, dan mendakwahkan. Sadarkan umat bahwa kita wajib berhukum hanya pada hukum Allah dan kita juga membutuhkan persatuan umat dalam bingkai daulah Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah.

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS Al Maidah : 48)

Kemudian muncul pertanyaan seperti ini, “Kenapa harus aku? Masih muda ini!”
Dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw., pemuda sangat berkonstribusi besar bagi tumbuh kembangnya Islam. Saat Islam tersiar, banyak pemuda yang mengembannya dan memperjuangkannya. Usamah bin Zaid diangkat oleh Rasulullah Saw. sebagai komander memimpin pasukan muslimin menyerbu wilayah Syam dalam usia 18 tahun. Saad bin Abi Waqqash yang masuk Islam saat berumur 17 tahun adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia hampir selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.. Mush’ab bin Umair yang tersohor karena ketampanannya dan kemewahannya,  setelah masuk Islam pada usia 18 tahun, ia terkenal dengan kezuhudannya dan terlibat aktif dalam menegakkan panji-panji Islam semasa hidupnya sehingga ia syahid di medan Perang Uhud. Bahkan, dipercaya Rasulullah Saw. menjadi duta pertama Islam untuk berdakwah di Madinah. Muhammad Al-Fatih, sang Penakluk Konstantinopel yang namanya selalu menjadi motivasi untuk menaklukkan kota Roma, adalah seorang pemuda visioner, cerdas, dan memiliki semangat yang luar biasa. Hal itu terjadi karena keyakinan yang mendalam terhadap akidah Islam. Potret pemuda seperti inilah yang mendorong dan melejitkan dakwah Islam saat itu.

“Dan hendakklah ada di antaramu segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Apakah dirimu orang yang beruntung itu?

Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi)

Jadilah kita pemuda yang menggenggam bara api itu. Walaupun panasnya membakar telapak tangan kita, tetapi kita tetap harus menggenggamnya, jangan menyerah dengan melepaskannya karena tanpa cahaya api itu kita akan tersesat dan masuk ke jurang yang dalam.
Lalu, ada lagi yang bertanya, “Apakah aku mampu? Berat sekali konsekuensi beriman ini.”
Jangan pernah ragu dengan potensi yang ada dalam dirimu. Cobalah lihat kupu-kupu, seandainya saja ia memiliki keragu-raguan, maka ia akan hidup dan mati sebagai seekor ulat bulu yang hanya bisa merangkak. Semangat yang menggebu-gebu, sikap gigih, berani, bertanggung jawab, dan energi juang yang tinggi, merupakan potensi alami yang dimiliki setiap pemuda. Potensi inilah yang kemudian harus mereka optimalkan bagi keberlangsungan dakwah Islam untuk menegakkan kembali panji-panji Islam sebagai gerbong terwujudnya totalitas keimanan.

Label: , ,

Kuawali

Aku sebenarnya bukan tipe orang yang sering menulis, apalagi aku juga merasa tidak berbakat dalam kepenulisan, selain memang merasa waktuku untuk menulis sangat terbatas di sela kesibukan lainnya. Namun, aku menyadari bahwa ketika kita menulis, kita mentransfer pemikiran dan ilmu kita yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Aku berharap dengan aku menulis  dan orang lain mempelajari sesuatu dari tulisanku, aku berdakwah dengan jemari ini, maka itu akan menjadi salah satu ladang pahala untukku.
Selain itu, aku ingin segala yang aku pikirkan, rasakan, alami, itu bisa aku kenang kapanpun melalui tulisan-tulisanku, agar aku tak melupakannya begitu saja, agar suatu waktu ketika aku merasa ‘down’ aku bisa menengok kembali hal-hal yang telah aku lalui, agar selalu ingat apa saja hal yang memotivasiku, bagaimana dulu pemikiran-pemikiranku.
Tulisan, juga dapat membuat orang lain mengenang dan mengenal kita. Mungkin di masa depan aku tak sempat bersua dengan cucu-cucuku dan keturunannya, namun mereka bisa mengenalku melalui jejak kata yang kutinggalkan.
Kubuat blog ini, dengan harapan aku akan semakin termotivasi menulis dan dapat menginspirasi orang lain.
Bismillaahirrahmaanirrahiim