GENERASI YANG MENGGENGGAM BARA API
Bissmillaahirrahmaanirrahiim.
“Kalian
adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat)
kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Umat Islam adalah umat terbaik. Wow! Siapa, sih yang
tidak merasa tersanjung dibilang “Yang Terbaik”? Apalagi Allah langsung yang memberi
gelar itu. Namun, mengapa sekarang ini kita tidak terlihat sebagai yang
terbaik? Mengapa kita tidak dapat memperlihatkan kesempurnaan Islam kepada
orang-orang yang belum memeluk agama Islam? Tidak seperti generasi-generasi di
zaman keemasan Islam, yaitu ketika Daulah Islam masih berdiri. Bahkan pada
zaman itu umat Islam unggul di segala bidang, mengalahkan Eropa yang memeluk
Kristen ataupun Persia yang masih beragama Majusi. Hingga mereka masuk Islam
berbondong-bondong karena takjub dengan kesempurnaan Islam. Bandingkan dengan
sekarang. Mengapa hal ini dapat terjadi? Padahal sumber yang kita pelajari
sekarang tetap sama, kan dengan yang mereka pelajari? Tetaplah al-Qur’an dan
as-Sunnah. Namun, kok? Hmm.. Heran kan? Iya dong, heran dong, heran aja lah
hehe...
Gladstone, salah seorang perdana menteri Inggris pernah
berkata, “Selama al-Qur’an
ini ada di tangan ummat Islam, tidak mungkin Eropa akan menguasai dunia Timur,
percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada
pemuda-pemuda Islam al-Qur’an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur’an dari hati mereka, baru kita akan menang dan
menguasai mereka.”
Setelah membaca kalimat di atas, bisa ditebak kira-kira
penyebab kemunduran dan runtuhnya kejayaan umat Islam? Belum? Oke, saya kasih,
nih bocorannya, berikut 3 penyebab utamanya.
(1) Proses mendapatkan keimanan yang keliru. Kalau ditanya, “Kenapa kamu
beragama Islam?” Kira-kira kamu bakalan jawab apa? Karena keluargamu muslim?
Nah, banyak sekali muslim yang masih belum benar-benar berpikir mengapa dia
memilih agama Islam, bukan agama lainnya. Sehingga, iman yang lemah ini lah
yang akan sangat mudah terjerumus dan terdoktrin dengan pemahaman Barat—sekulerisme, komunisme, dan sebagainya. Jika iman kita benar, maka tentunya
kita tahu tujuan hidup kita apa di dunia ini, tidak lain tidak bukan adalah
hanya untuk mencari keridhoan Allah Swt. Bukan untuk mencari kebahagiaan
duniawi saja. Misalnya, mukmin sejati yang ingin menikah akan menempuh jalan khitbah-ta’aruf
agar pernikahannya berkah—diridhoi Allah—bukan dengan jalan pacaran yang
dimurkai Allah. Segala kenikmatan yang tidak mendekatkan diri pada Allah merupakan musibah.
(2) Runtuhnya Khilafah Islamiyah yang melindungi umat, mengatur urusan
umat, menerapkan hukum Islam secara sempurna, dan mengemban dakwah ke seluruh
penjuru dunia. Wajarlah pasca keruntuhan Khilafah Utsmaniyah tahun 1924 M, umat
terombang-ambing nasibnya, pelecehan dan kekerasan terhadap Islam dimana-mana, karya-karya
besar muslim mati suri, tiap-tiap individu muslim tidak lagi merasa “satu”
dengan muslim lainnya, terkotak-kotak atas nama nation state, dan masih banyak dampak lainnya yang bahkan
tak kita sadari sekarang ini.
(3) Paham sekulerisme yang mengotori pikiran umat. Umat menjadi tidak menyadari
bahwa Islam bersifat komprehensif (syumuliah), yaitu tidak hanya
mengatur aspek ibadah ritual, tapi mengatur segala aspek kehidupan (lihat QS Al
Ma`idah: 3; QS An Nahl: 89). Tidak boleh kita memisahkan antara aspek ibadah
ritual dengan aspek kehidupan ini, artinya Islam mengatur kehidupan kita
seluruhnya, segala kehidupan kita harus diatur sesuai dengan hukum Allah, bukan
kita yang membuat peraturan sendiri. Coba kita lihat, di sekeliling kita masih
banyak muslim yang mendirikan sholat tetapi tidak menutup auratnya. Belum lagi
aturan-aturan Islam lain yang tidak bisa kita jalankan karena tidak adanya negara atau kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukum Islam secara
menyeluruh (bukan parsial).
Dari 3 penyebab tadi, bisa terlihat bahwa apa yang
dikatakan Gladstone tadi benar adanya. Ngeri, kan? Kita tak lagi menggunakan hukum
Allah sebagai landasan yang mengatur kehidupan.
Sekarang apa, nih yang harus kami lakukan untuk
berkontribusi demi Islam?
Hmm, kasih tau ga, yaa...? Baiklah, check it out!
Kita tadi telah menganalisis etiologinya, nah berarti
kita harus mengobatinya hingga tuntas, bukan hanya obat simptomatik saja.
Sepakat?
Lalu, apa obatnya? Ya penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).
Mulailah dengan menuntut ilmu Islam, menerapkan dalam kehidupan, dan
mendakwahkan. Sadarkan umat bahwa kita wajib berhukum hanya pada hukum Allah dan
kita juga membutuhkan persatuan umat dalam bingkai daulah Islam yang akan menerapkan
Islam secara kaffah.
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS
Al Maidah : 48)
Kemudian muncul pertanyaan seperti ini, “Kenapa harus
aku? Masih muda ini!”
Dalam
perjalanan dakwah Rasulullah Saw., pemuda
sangat berkonstribusi besar bagi tumbuh kembangnya Islam. Saat Islam tersiar,
banyak pemuda yang mengembannya dan memperjuangkannya. Usamah bin Zaid diangkat oleh Rasulullah Saw. sebagai komander memimpin pasukan muslimin menyerbu wilayah Syam dalam usia 18 tahun. Saad bin Abi Waqqash
yang masuk Islam saat berumur 17 tahun adalah orang yang pertama melepaskan anak panah dalam membela
agama Allah dan juga orang yang mula-mula terkena anak panah. Ia hampir
selalu menyertai Nabi Saw dalam setiap pertempuran.. Mush’ab bin Umair yang tersohor karena
ketampanannya dan kemewahannya, setelah masuk Islam pada usia 18 tahun,
ia terkenal dengan kezuhudannya dan terlibat aktif dalam menegakkan panji-panji
Islam semasa hidupnya sehingga ia syahid di medan Perang Uhud. Bahkan, dipercaya Rasulullah Saw. menjadi duta pertama Islam untuk berdakwah di Madinah. Muhammad
Al-Fatih, sang Penakluk Konstantinopel yang namanya selalu menjadi motivasi
untuk menaklukkan kota Roma, adalah seorang pemuda visioner, cerdas, dan memiliki semangat yang luar biasa. Hal itu terjadi karena keyakinan yang mendalam terhadap
akidah Islam. Potret pemuda seperti inilah yang mendorong dan melejitkan dakwah
Islam saat itu.
“Dan
hendakklah ada di antaramu segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada
kebaikan), menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran:
104)
Apakah dirimu orang yang beruntung itu?
Anas bin Malik
menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana
orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang
menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi)
Jadilah kita pemuda yang menggenggam bara api itu. Walaupun
panasnya membakar telapak tangan kita, tetapi kita tetap harus menggenggamnya,
jangan menyerah dengan melepaskannya karena tanpa cahaya api itu kita akan
tersesat dan masuk ke jurang yang dalam.
Lalu, ada lagi yang bertanya, “Apakah aku mampu? Berat
sekali konsekuensi beriman ini.”
Jangan pernah ragu dengan potensi yang ada dalam dirimu.
Cobalah lihat kupu-kupu, seandainya saja ia memiliki keragu-raguan, maka ia
akan hidup dan mati sebagai seekor ulat bulu yang hanya bisa merangkak. Semangat yang menggebu-gebu, sikap gigih, berani, bertanggung
jawab, dan energi juang yang tinggi, merupakan potensi alami yang dimiliki
setiap pemuda. Potensi
inilah yang kemudian harus mereka optimalkan bagi keberlangsungan dakwah Islam
untuk menegakkan kembali panji-panji Islam sebagai gerbong terwujudnya
totalitas keimanan.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda